27 Maret 2026
Dilaporkan oleh Salsabila Putri Noor Aziziah
Yaounde, Kamerun – Dinamika dalam KTM WTO ke-14 tidak hanya terjadi antara Negara Utara dan Selatan, tetapi juga adanya represi terhadap masyarakat sipil. Sekretariat WTO telah melarang aksi masyarakat sipil dan bertolak belakang dengan janji mereka di awal untuk memastikan izin aksi damai.
Pelarangan aksi ini disampaikan oleh Sekretariat WTO secara mendadak malam sebelum KTM WTO dimulai. Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Ekonomi (Koalisi MKE) menghadiri KTM WTO bersama dengan jaringan Our World Is Not For Sale (OWINFS) yang telah menghadiri pertemuan menteri sejak awal WTO didirikan. Sekretariat WTO secara sepihak melarang bentuk aksi damai apapun, termasuk membentangkan spanduk, poster, menyuarakan yel-yel/mic-check, dan melakukan aksi diam. Selebaran yang disebar di tiap meja pun kemudian disita.
Dari awal dibentuknya WTO, masyarakat sipil memang telah dikesampingkan partisipasinya dan tidak diizinkan untuk sekadar memantau dari dalam meskipun dalam forum internasional lainnya organisasi masyarakat sipil yang terakreditasi terjamin partisipasinya. Setidaknya pada 2 putaran KTM WTO terakhir, aksi masyarakat sipil semakin direpresi. Padahal masyarakat sipil yang hadir datang dari berbagai negara untuk menyuarakan kepentingan rakyat, termasuk perempuan, petani, dan nelayan skala kecil.
Aksi yang diizinkan atau dilarang dalam beberapa KTM WTO
| Aksi yang Dilakukan Masyarakat Sipil dalam KTM WTO | Diizinkan di KTM WTO 1-12? | Diizinkan di KTM WTO ke-13? | Diizinkan di KTM WTO ke-14? |
| Menyebarkan selebaran informasi | YA | TIDAK | YA |
| Memberikan selebaran pada jurnalis yang dikenal | YA | TIDAK | YA |
| Berbicara dengan delegasi yang akan memasuki ruang negosiasi | YA | TIDAK | YA |
| Memegang poster untuk aksi diam | YA | TIDAK | TIDAK |
| Membentangkan spanduk | YA | TIDAK | TIDAK |
| Menyayikan yel-yel | YA | TIDAK | TIDAK |
| Melakukan aksi di tempat yang terlihat oleh delegasi | YA | TIDAK | TIDAK |
| Mengambil foto saat aksi | YA | TIDAK | – |
| Merekam video berdasarkan ketentuan dari Sekretariat WTO | YA | TIDAK | – |
| Memakai Kuffiyeh Palestina | YA | TIDAK | YA |
Pelarangan ini menandakan semakin menguatnya represi yang pertama kali terjadi saat KTM WTO ke-13 berlangsung di Abu Dhabi, di mana masyarakat sipil ditahan dan semua bentuk aksi dilarang. Beberapa aksi dapat dilakukan kembali di Yaounde, termasuk memberikan selebaran, berbicara dengan delegasi, dan menggunakan simbol politik. Namun bentuk-bentuk aksi yang lebih eksplisit masih dilarang.
K V Biju dari organisasi petani India (Rashtriya Kisan Mahasangh) menyampaikan bahwa dirinya datang ke KTM WTO ke-14 mewakili 5 juta petani India yang membutuhkan WTO untuk segera menyepakati solusi permanen terkait cadangan pangan publik (public stockholding) agar petani dapat menerima penghidupan yang layak dan terus memproduksi pangan namun suara petani dibungkam karena Sekretariat WTO melarang berbagai bentuk aksi damai.
Sementara itu, Jane Kelsey, professor emeritus dari Universitas Auckland yang telah menghadiri enam KTM WTO memperhatikan bahwa ruang untuk masyarakat sipil semakin mengecil. Hal ini ditambah lagi dengan dibatalkannya briefing yang seharusnya diberikan oleh Sekretariat WTO untuk menjelaskan pada masyarakat sipil hal-hal yang dinegosiasikan tiap harinya. Apabila dinamika ini tidak diprotes, KTM WTO ke-14 akan menjadi pendahulu di mana masyarakat sipil hanya hadir tetapi tidak didengar dan dianggap penting partisipasinya. WTO yang secara institusi tengah terancam relevansinya dan terdesak untuk melakukan “reformasi,” menekan suara masyarakat sipil justru akan semakin menghilangkan legitimasi dan kepercayaan publik pada institusi ini.